Sabtu, 16 Oktober 2010

Faktor – faktor yang mempengaruhi kepribadian

Berdasarkan aspek psikologis :
Menurut Jung kepribadian dikategorikan menjadi ; introvert dan ekstrovert, sedangkan
Heymans membagi menjadi : emosialitet, aktivitet dan sekunder.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kepribadian :
1. Faktor genetik
Dari beberapa penelitian bayi-bayi baru lahir mempunyai temperamen yang berbeda,
Perbedaan ini lebih jelas terlihat pada usia 3 bulan. Perbedaan meliputi: tingkat aktivitas,
rentang atensi, adaptabilitas pada perubahan lingkungan. Sedangkan menurut hasil riset
tahun 2007 kazuo Murakami di Jepang menunjukan bahwa gen Dorman bisa distimulasi
dan diaktivasi pada diri seseorang dalam bentuk potensi baik dan potensi buruk.
2. Faktor lingkungan
Perlekatan (attachment): kecenderungan bayi untuk mencari kedekatan dengan
pengasuhnya dan untuk merasa lebih aman dengan kehadiran pengasuhnya dapat
mempengaruhi kepribadian.
Teori perlekatan (Jhon Bowlby) menunjukkan : kegagalan anak membentuk perlekatan
yang kuat dengan satu orang atau lebih dalam tahun pertama kehidupan berhubungan
dengan ketidakmampuan membentuk hubungan dengan orang lain pada masa dewasa
(Bowlby , 1973).
2. Faktor stimulasi gen dan cara berpikir
Berdasarkan penelitian akhir 2007, yang dilakukan oleh Kazuo Murakami, Ph.D dari
Jepang dalam bukunya The Divine message of the DNA. Menyimpulkan bahwa
kepribadian sepenuhnya dikendalikan oleh gen yang ada dalam sel tubuh manusia. Gen
tersebut ada yang bersipat Dorman (tidur) atau tidak aktip dan yang bersipat aktip. Bila
kita sering menyalakan gen yang tidur dengan cara positif thinking maka kepribadian dan
nasib kita akan lebih baik. Jadi genetik bukan sesuatu yang kaku, permanen dan tidak
dapat dirubah.
Setiap orang yang diciptakan Tuhan sudah dilengkapi dengan kepribadian. Kepribadian itu
sebetulnya adalah sumbangsih atau pemberian Tuhan ditambah dengan pengaruh lingkungan
yang kita terima atau kita alami pada masa pertumbuhan kita. Sumber:
http://www.okezone.com. Ada beberapa ahli yang beranggapan bahwa segalanya telah
diprogram dalam genetik. Beberapa ahli lain menyatakan bahwa faktor belajar dan
lingkungan memegang peranan yang sangat menentukan. Perpaduan kedua faktor itu
dinamakan Anna Anastasia, dimana keduanya membentuk kepribadian manusia.
John L Holland, seorang praktisi yang mempelajari hubungan antara kepribadian dan minat
pekerjaan, mengemukakan bahwa ada enam tipe atau orientasi kepribadian pada manusia.
1. Tipe realistik .
Menyukai pekerjaan yang sifatnya konkret, yang melibatkan kegiatan sistematis, seperti
mengoperasikan mesin, peralatan. Tipe seperti ini tidak hanya membutuhkan keterampilan,
komunikasi, atau hubungan dengan orang lain, tetapi dia memiliki fisik yang kuat. Bidang
karier yang cocok, yaitu perburuhan, pertanian, barber shop, dan konstruski.
2. Tipe intelektual/investigative .
Menyukai hal-hal yang teoritis dan konseptual, cenderung pemikir daripada pelaku tindakan,
senang menganalis, dan memahami sesuatu. Biasanya menghindari hubungan sosial yang
akrab. Tipe ini cocok bekerja di laboratorium penelitian, seperti peneliti, ilmuwan, ahli
matematika.
3. Tipe sosial.
Senang membantu atau bekerja dengan orang lain. Dia menyenangi kegiatan yang melibatkan
kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan berhubungan dengan orang lain, tetapi umumnya
kurang dalam kemampuan mekanikal dan sains. Pekerjaan yang sesuai, yaitu guru/pengajar,
konselor, pekerja sosial, guide, dan bartender.
4. Tipe konvensional.
Menyukai pekerjaan yang terstruktur atau jelas urutannya, mengolah data dengan aturan
tertentu. Pekerjaan yang sesuai, yaitu sekretaris, teller, filing, serta akuntan.
5. Tipe usaha/enterprising.
Cenderung mempunyai kemampuan verbal atau komunikasi yang baik dan menggunakannya
untuk memimpin orang lain, mengatur, mengarahkan, dan mempromosikan produk atau
gagasan. Tipe ini sesuai bekerja sebagai sales, politikus, manajer, pengacara atau agensi iklan.
6. Tipe artistik .
Cenderung ingin mengekspresikan dirinya, tidak menyukai struktur atau aturan, lebih
menyukai tugas-tugas yang memungkinkan dia mengekspresikan diri. Karier yang sesuai,
yaitu sebagai musisi, seniman, dekorator, penari, dan penulis.
3. Struktur kepribadian manusia
Struktur kepribadian merupakan unsur-unsur atau komponen yang membentuk diri
seseorang secara psikologis. Salah satu contoh struktur kepribadian yang paling tua
gagasannya adalah menurut Sigmund Frued tokoh psikoanalisa. Berdasarkan beberapa
penelitian pada klien yang mengalami masalah kejiwaan ia menyimpulkan bahwa diri
manusia dalam membentuk kepribadianya terdiri atas 3 komponen utama yaitu Das es,
das ich, das Uber Ich istilah lainnya id, ego, super ego. Untuk memudahkan pemahaman,
saya sering menamakan kalau id artinya nafsu atau dorongan-dorongan kenikmatan yang
harus dipuaskan, bersipat alamiah pada manusia. Ego sering saya analogikan sebagai
kemampuan otak atau akal yang membimbing manusia untuk mencari jalan keluar
terhadap masalah melalui penalarannya. Super Ego sering saya analogikan sebagai norma,
aturan, agama, norma sosial.
a. Sejarah hidup Sigmund Frued
Sigmund Freud yang terkenal dengan Teori Psikoanalisis dilahirkan di Morovia, pada
tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Gerald
Corey dalam “Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy” menjelaskan
bahwa Sigmund Freud adalah anak sulung dari keluarga Viena yang terdiri dari tiga laki-
laki dan lima orang wanita. Dalam hidupnya ia ditempa oleh seorang ayah yang sangat
otoriter dan dengan uang yang sangat terbatas, sehingga keluarganya terpaksa hidup
berdesakan di sebuah aparterment yang sempit, namun demikian orang tuanya tetap
berusaha untuk memberikan motivasi terhadap kapasitas intelektual yang tampak jelas
dimiliki oleh anak-anaknya.
Sebahagian besar hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengembangkan
tentang teori psikoanalisisnya. Uniknya, saat ia sedang mengalami problema emosional
yang sangat berat adalah saat kreativitasnya muncul. Pada umur paruh pertama empat
puluhan ia banyak mengalami bermacam psikomatik, juga rasa nyeri akan datangnya maut
dan fobi-fobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia mendapat
pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.
Sigmund Freud dikenal juga sebagai tokoh yang kreatif dan produktif. Ia sering
menghabiskan waktunya 18 jam sehari untuk menulis karya-karyanya, dan karya tersebut
terkumpul sampai 24 jilid. Bahkan ia tetap produktif pada usia senja. Karena karya dan
produktifitasnya itu, Freud dikenal bukan hanya sebagai pencetus psikoanalisis yang
mencuatkan namanya sebagai intelektual, tapi juga telah meletakkan teknik baru untuk
bisa memahami perilaku manusia. Hasil usahanya itu adalah sebuah teori kepribadian dan
psikoterapi yang sangat komprehenshif dibandingkan dengan teori serupa yang pernah
dikembangkan.
Psikoanalisa dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner di bidang psikologi yang
dimulai dari satu metode penyembuhan penderita sakit mental, hingga menjelma menjadi
sebuah konsepsi baru tentang manusia. Hipotesis pokok psikoanalisa menyatakan bahwa
tingkah laku manusia sebahagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar, sehingga
Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat peta ketidaksadaran manusia.
Lima karya Freud yang sangat terkenal dari beberapa karyanya adalah: (1) The
Interpretation of dreams (1900), (2) The Psichopathology of Everiday Life (1901), (3)
General Introductory Lectures on Psichoanalysis (1917), (4) New Introductory Lectures
on Psichoanalysis (1933) dan (5) An Outline of Psichoanalysis (1940).
Dalam dunia pendidikan pada masa itu, Sigmund Freud belum seberapa populer. Menurut
A. Supratika, nama Freud baru dikenal pertama kalinya dalam kalangan psikologi
akademis pada tahun 1909, ketika ia diundang oleh G. Stanley Hall, seorang sarjana
psikologi Amerika, untuk memberikan serangkaian kuliah di universitas Clark di
Worcester, Massachusetts. Pengaruh Freud di lingkungan psikologi baru terasa sekitar
tahun 1930-an. Akan tetapi Asosiasi Psikoanalisis Internasional sudah terbentuk tahun
1910, begitu juga dengan lembaga pendidikan psikoanalisis sudah didirikan di banyak
negara.
b. PersepsiFreud tentang sifat manusia
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang
tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa
enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori
Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian ]
menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada
dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran
Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan,
tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih
rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.
Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia
adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah
dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat
manusia itu akan punah. Kecemasan muncul karena adanya konflik antara id dengan super
ego.

c. Struktur Kepribadian dalam pandangan Frued
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan
superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana
sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian
kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar
untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-
dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari
kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah-benar,
boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.
Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai
sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk
mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut
terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada,
dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan
oleh energi psikis yang menggerakkan.
Menurut Calvil S. Hall dan Lindzey, dalam psikodinamika masing-masing bagian dari
kepribadian total mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dinamika dan
mekanisme tersendiri, namun semuanya berinteraksi begitu erat satu sama lainnya,
sehingga tidak mungkin dipisahkan. Id bagian tertua dari aparatur mental dan merupakan
komponen terpenting sepanjang hidup. Id dan instink-instink lainnya mencerminkan
tujuan sejati kehidupan organisme individual. Jadi id merupakan pihak dominan dalam
kemitraan struktur kepribadian manusia.
Cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah: (1) apabila
rasa id-nya menguasai sebahagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak
primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengumbar impuls-impuls primitifnya, (2)
apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya
bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super
ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada
hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang
irrasional.
Jadi untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah:
Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu
dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis
dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan
dengan selalu memaksakan kehendaknya. Aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip
kenikmatan dan proses primer.
Id mulai berkembang pada usia bayi, bagian kepribadian yang paling primitif, dan sudah
ada sejak lahir Aspek biologis dari kepribadian.Id terdiri dari dorongan (impuls) dasar
:kebutuhan makan, minum, eliminasi, menghindari rasa sakit, memperoleh kenikmatan
sosial. Id juga merupakan kondisi Unconsciousness, sumber energi psikis, sistem
kepribadian yang dasar, terdapat naluri-naruli bawaan, berisi keinginan-keinginan yang
belum tentu sesuai dengan norma. Id biasanya menuntut segera dipuaskan (the principles
of constancy). Id akan Menjalankan fungsi tindakan refleks dan proses berpikir primer

Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini
ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan
kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol
jalannya id, super-ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan
dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu
organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id, yang
memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja
ego.sedangkan pertimbangan halal dan haram dalam mencari makan adalaj kerja Super
ego. Ego mulai berkembang usia 2-3 th. Ego merupakan aspek psikologis kepribadian.
Ego berada pada tingkat pra sadar. Ego menjalankan fungsi dengan proses berpikir
sekunder (rasional). Ego merupakan hasil kontak individu dengan dunia luar/lingk (The
realita of principles) dan penengah tuntutan id dan superego.
Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari
kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan
sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan
norma-norma moral masyarakat. Super ego Mulai berkemb usia 4-6 tahun. Super Ego
merupakan aspek sosiologis kepribadian, sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai
dan aturan yang sifatnya evaluatif. Terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-
aturan dari significant others. Berfungsi dalam legislatif dan yudikatif. Super Ego juga
terdiri dari : kata hati (nurani) & ego ideal. Fungsi utama: 1) pengendali id, 2)
mengarahkan ego pada tujuan yang yang sesuai dengan moral ketimbang kenyataan, 3)
mendorong individu ke arah kesempurnaan.

d. Pandangan Freud terhadap Kesadaran dan ketidaksadaran
Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu
sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku
dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat
dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya.
Menurut Gerald Corey, bukti klinis untuk membenarkan alam ketidaksadaran manusia
dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti: (1) mimpi; hal ini merupakan pantulan dari
kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri, (2) salah ucap sesuatu; misalnya
nama yang sudah dikenal sebelumnya, (3) sugesti pasca hipnotik, (4) materi yang berasal
dari teknik asosiasi bebas, dan (5) materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi
simbolik dari simptom psikotik.
Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan
pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah
permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di
permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman
dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran. Secara skematis
alam bawah sadar dan alam sadar dapat dibandingkan sebagai berikut :
e. Pandangan Freud terhadap Kecemasan
Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey
mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita
untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem
id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah
mengingatkan adanya bahaya yang datang.
Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan
realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang
datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada
ancaman nyata. Misalnya kecemasan saat seseorang menjelang ujian, wawancara, tes
kerja. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan
menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang dapat membuatnya terhukum, misalnya
manusia tidak kuat bahwa hasrat seksual harus dipuaskan, hasrat lapar harus dipuaskan,
hasrat tidur, hasrat terhindar dari sakit harus dipuaskan tetapi pemuasannya sangat sulit
dan perlu perjuangan berat. dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati
nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa
bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral. Misalnya
melakukan masturbasi, mencuri, korupsi, berbohong.
e. Pandangan Freud terhadap Kecemasan
Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey
mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita
untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem
id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah
mengingatkan adanya bahaya yang datang.
Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan
realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang
datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada
ancaman nyata. Misalnya kecemasan saat seseorang menjelang ujian, wawancara, tes
kerja. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan
menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang dapat membuatnya terhukum, misalnya
manusia tidak kuat bahwa hasrat seksual harus dipuaskan, hasrat lapar harus dipuaskan,
hasrat tidur, hasrat terhindar dari sakit harus dipuaskan tetapi pemuasannya sangat sulit
dan perlu perjuangan berat. dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati
nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa
bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral. Misalnya
melakukan masturbasi, mencuri, korupsi, berbohong.
situasi traumatik, (3) pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan
yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, (4) proyeksi; ini
berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia
luar, (5) penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan
menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam
ke “sasaran yang lebih aman”, (6) rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan
alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur, (7)
sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara
sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi, (8) regresi; yaitu berbalik
kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami, (9) introjeksi; yaitu mekanisme
untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain, (10) identifikasi,
(11) konpensasi, dan (12) ritual dan penghapusan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar